Thursday, April 4, 2019

Solusi Hasil print tidak sesuai pengaturan di Microsoft 2013

Solusi Hasil print tidak sesuai pengaturan di Microsoft 2013


Saya mengalaminya saat nge-print dokumen. hasilnya tidak sesuai dimana letak Footer dari dokumennya itu terlalu keatas sehingga sisa kosong dibawah halaman kertas itu masih banyak banget. sehingga hasilnya jelek. Nah disini saya kasih triknya setelah menciba mengotak-atik pengaturannya
oke langsung aja...

masalah hasil print yang tidak sesuai dengan format margin yang telah kita tentukan. Hal ini sering terjadi pada Microsoft Word 2013. Apakah ini merupakan bug? Tentunya tidak. Jadi bagimana sih solusinya? Ok, mari saya jelaskan sedikit permasalahan yang terjadi. Microsoft secara default mengatur hasil print keluaran akan selalu menyesuaikan dengan kertas berukuran A4. Oleh karena itu, wajar saja pengaturan margin juga akan berubah karena hal ini.

Berikut adalah cara untuk menenanganinya. Pertama, kita pilih tab File, kemudian pilih tab menu paling bawah di sebalah kiri yaitu “Options”. Maka akan tampak tampilan seperti dibawah ini.



Selanjutnya pilih Tab Advance pada bagian kiri. Cari bagian yang berlabel Print. Bagian berlabel Print tampak seperti gambar dibawah ini.



Hilangkan Checklist pada bagian Scale content for A4 or 8.5 x 11” paper  sizes. Sekarang lakukan print kembali pada dokumen tersebut dan lihatlah hasil print-nya.  Hasil print akan sesuai dengan pengaturan margin yang kita buat dan sesuai dengan keinginan kita.

Terima Kasih atas kunjungannya
Share:

Wednesday, April 3, 2019

[Lirik+Terjemahan] Coldplay - scientist

[Lirik+Terjemahan]
Coldplay - scientist

Come up to meet you, tell you I'm sorry
Datang temuimu, ungkapkan sesalku
You don't know how lovely you are
Kau tak tahu betapa cantiknya dirimu

I had to find you
Harus kutemukan dirimu
Tell you I need you
Katakan padamu aku membutuhkanmu
Tell you I set you apart
Katakan padamu aku memilihmu

Tell me your secrets
Katakanlah rahasiamu
And ask me your questions
Dan ajukanlah pertanyaanmu
Oh, let's go back to the start
Oh, ayo mulai dari awal lagi

Running in circles
Berlari dalam lingkaran
Coming up tails
Mengejar ekor
Heads on a science apart
Kepala terpisah dalam ilmu pengetahuan

Nobody said it was easy
Tak ada yang bilang ini mudah
It's such a shame for us to part
Sungguh memalukan jika kita berpisah
Nobody said it was easy
Tak ada yang bilang ini mudah
No one ever said it would be this hard
Tak ada yang bilang ini akan sesulit ini

Oh, take me back to the start
Oh, bawa aku ke awal lagi

I was just guessing

 
Aku hanya menerka-nerka
At numbers and figures
Jumlah dan angka
Pulling the puzzles apart
Memecah belah teka-taki

Questions of science
Pertanyaan ilmu pengetahuan
Science and progress
Ilmu pengetahuan dan kemajuan
Do not speak as loud as my heart
Tak sekeras suara hatiku

Tell me you love me
Katakan kau mencintaiku
Come back and haunt me
Kembalilah dan hantui aku
Oh, and I rush to the start
Oh, dan aku bergegas ke awal lagi

Running in circles
Berlari di lingkaran
Chasing our tails
Mengejar ekor kita
Coming back as we are
Kembali sebagai diri kita

Nobody said it was easy
Tak ada yang bilang ini mudah
It's such a shame for us to part
Sungguh memalukan jika kita berpisah
Nobody said it was easy
Tak ada yang bilang ini mudah
No one ever said it would be so hard
Tak ada yang bilang ini akan begitu sulit 

I'm going back to the start
aku kembali ke awal
Share:

Monday, April 1, 2019

Terjemahan lirik Blue Bird ost Opening Bakuman by kobukuro

Terjemahan lirik Blue Bird ost Opening Bakuman by kobukuro

Description: Opening theme

Written and Composed by Kobuchi Kentarou
Arranged and Performed by Kobukuro


Your love  aozora tobikau Blue Bird  ano tori ga miemasu ka? 
shiawase wa itsumo mienai Color  
kanjiteiru  Your love

Blue bird, terbang di langit biru bersama cintamu? 
aku tak bisa melihat warna kebahagiaan yang tak terlihat, tapi aku bisa merasakan sepenuhnya perasaanmu

shinpaigoto bakari ga  tsumoru haru no sora wo 
miagete  utsumuite  mata kao wo ageteru 
niawanai kaban ni wa  iranai mono to  taisetsu na mono 
guchagucha ni oshikonda mama

kekhawatiranku yang terasa memenuhi langit musim semi
liat ke atas, kebawah, kuulangi lagi 
terasa malas aku memasukkan benda, beberapa berguna tapi sebagian tak guna

kono machi de mitsukerutte kimeta jibun 
nakushicha ikenai mono wo mune ni

kudekap erat barang yang berharga 
ku lanjutkan perjalanan panjang mencarimu dikota ini

Your love  aozora tobikau Blue Bird  ano tori ga miemasu ka? 
shiawase wa itsumo mienai Color  kanjiteiru  Your love

Blue bird, terbang di langit biru bersama cintamu? 
aku tak bisa melihat warna kebahagiaan yang tak terlihat, tapi aku bisa merasakan sepenuhnya perasaanmu

kimi ga kureta shiroi SHATSU  sodeguchi no ura 
shiroi shishuu de tsuzurareta  "FIGHT!" no gomoji

Ada bordiran tertuliskan Lima huruf ---"FIGHT!"---- yang kau berikan padaku

mou hitori demo ganbareru ki de ita 
doushite namida ga deru no darou?

aku  bisa melakukan yang terbaik dari sebelum-belumnya
jadi, tak pantas aku bersedih?

Your love  kimi to tsunagatteru kara  boku wa kaze ni makasete 
aruite yukeru  shinjiru Power  kono mune ni Believe your love 
aozora tobikau Blue Bird  ano tori ga miemasu ka? 
shiawase wa itsumo mienai Color  kanjiteiru  Your love

karna cintamu, kita bisa terhubung satu sama lain, jadi aku akan meninggalkan segalanya agar terbawa angin
sekarang aku percaya aku bisa terus berjalan, karena aku percayacintamu
bisa kau liat burung biru, terbang di langit biru bersama cintamu? 
aku tak bisa melihat warna kebahagiaan yang tak terlihat, tapi aku bisa merasakan sepenuhnya perasaanmu

Love  hitorikiri tsubuyaita  omoi wa hanabira no you ni 
yasashii kaze ga hakobu HIRARI  kimi no kokoro e 
Your love  aozora tobikau Blue Bird  ano tori ga miemasu ka? 
shiawase wa itsumo mienai Color  kanjiteiru 
Your love  kokoro ni tobikau you na  Your love  ano tori wa kimi nanda 
kanashii kaze mo  hane wo hiroge  sora ni toketeru 
namida nugui  hane wo kawakasu 
ai de bokura tsunagatteru kara  Your love

saat kubisikan cintaku padamu, perasaanku bagaikan kelopak bunga 
yang tertiup angin sepoi-sepoi lembut dan perlahan bergetar kearah hatimu
Blue bird,  terbang di langit biru bersama cintamu? 
aku tak bisa melihat warna kebahagiaan yang tak terlihat, tapi aku bisa merasakan sepenuhnya perasaanmu
cintamu berterbangan dihatiku.Ah, burung biru itu lama bersamamu
aku akan terus terbang menerjang badai angin
terus kepakan sayap-sayapku
karena cintamu, sekarang kita terhubung satu sama lain.

selengkapnya....

indonesia translate by kyasa21.blogspot.com
Transliterated by Rei
http://www.crimsonxsilk.wordpress.com
Translated by animeyay
Share:

Sunday, March 31, 2019

Mengenalkan Keindahan Hijab di Jepang, Rahmalia Aufa Yazid Jadi Sorotan Dunia Fashion

Mengenalkan Keindahan Hijab di Jepang, Rahmalia Aufa Yazid Jadi Sorotan Dunia Fashion

Hijab merupakan busana yang lekat sekali dengan umat muslim, Rahmalia Aufa Yazid, seorang muslim berdarah Indonesia di Jepang tengah menjadi sorotan dunia fashion dan media internasional karena penampilannya yang inspiratif mengangkat keindahan hijab yang dipadupadankan dengan beragam busana modern.

instagram : @aufatokyo

Rahmalia Aufa Yazid yang lahir dan besar di Tokyo, Jepang tidak pernah mendapatkan paksaan untuk mengenakan hijab dari orang tuanya, Soal kepercayaan pun, sebagian besar panduan didapatkan dari kedua orangtuanya. Kendati demikian, dia pun akhrinya memutuskan untuk mengenakan hijab ketika menginjak umur 18 tahun.

Pada mulanya dia sangat berjuang untuk mengenakan hijab, sempat merasa sangat asing karena menjadi satu-satunya murid di sekolah yang mengenakan hijab, hingga merasa ketinggalan jaman.

“Tidak hanya soal label orang asing, tetapi busanaku yang secara konsisten dipakai merupakan hijab lama dan baju yang sangat berbeda dengan busana populer di Jepang saat itu,” tuturnya lewat Instagram dengan nama @aufatokyo.

Semua kegelisahan Aufa berubah ketika dia menjumpai busana karya Hana Tajima, seorang desainer campuran Inggris dan Jepang yang memeluk Islam di usia remaja.

Melihat karya Tajima “Uniqlo Modest Collection“, Aufa menyadari bahwa dia tidak harus merasa asing ketika memakai hijab di keramaian Tokyo.

“Ini moment ketika mengenakan hijab berubah dari sesuatu yang Impersonal, busana religious menjadi sesuatu yang sangat nyata bagi hidup saya”


Aufa memadu padankan berbagai busana hijab yang ia miliki dengan berbagai macam merek fashion kenamaan seperti UNIQLO, ZARA, G.U, dll tanpa mengurangi nilai kesopanan dan keagamaan dalam memakai hijab.

Larangan agama islam tentang mewajibkan wanita untuk menutupi aurat adalah hal yang paling dia nikmati dalam berbusana. Karena dalam berhijab, wanita dilarang untuk memamerkan bagian-bagian seperti leher, tangan, dan kaki, sangat sulit untuknya mencari busana yang cocok dan tetap seimbang.

“tapi untuk saya, hal ini merupakan bagian yang menyenangkan, seperti memecahkan teka-teki”




Instagram : @aufatokyo

Kerja kerasnya selama ini menuntun dia menjadi pribadi yang lebih taat akan kepercayaanya terhadap agama Islam di tengah masyarakat dimana muslim menjadi agama yang minoritas. Ia menggunakan karyanya untuk menunjukan kepada orang-orang bahwa mereka dapat memakai hijab, hidup normal, tanpa merasa asing.

Aku ingin dunia lebih memahami dan mengenal agama Islam, mengubah prasangka yang salah tentang agama, dan membantu orang-orang menyadari nilai hidup dalam masyarakat yang beragam. Aku ingin menunjukan diriku, seorang muslim yang kuat dengan hidup yang indah, melalui karya yang aku buat.”

Featured Image : Rahmalia Aufa Yazid / IG: @aufatokyo

Source : Buzz Feed News
sumber : Jappanesse station
Share:

novel Taman Sunyi Sekala


novel Taman Sunyi Sekala

aku jatuh cinta pada agama
apapun yang membuatku jatuh cinta
kepada diriku yang akan membuatku jatuh cinta pada tempat yang kutinggali
sehingga aku ingat  siapa yang menggerakkan angin
sebagaimana aku ingat siapa
yang meniupkan roh kepada janin ibuku

baca juga
Kutipan Novel Taman Sunyi Sekala

Share:

Saturday, March 30, 2019

profile band indie Bara Suara

Bara Suara

Barasuara. Foto: Dok. Banyu Communications


Barasuara adalah sebuah grup musik asal Indonesia. Iga Massardi(vokal/gitar), TJ Kusuma (gitar), Gerald Situmorang (bass), Marco Steffiano (drum), Asteriska (vokal), Puti Chitara (vokal). Barasuara merilis album perdana mereka yang berjudul Taifun pada tahun 2015.

Awalnya Iga Massardi ingin membuat sebuah solo project untuk lagu-lagu ciptaannya sendiri. Namun setelah itu ia malah lebih tertarik mengerjakan proyek ini bersama sebuah band. Dari sini ia mengajak TJ, Marco dan Asteriska. Pada awalnya Pandu Fuzztoni (gitaris grup Morfem) bermain bass, namun karena jadwalnya yang padat lalu digantikan oleh Gerald Situmorang, yang awalnya diajak oleh Pandu. Setelah tampil perdana di kafe milik Iga, Kafe TokoVe di kawasan Kemang, Jakarta, Puti Chitara masuk dalam line-up.

Album

Taifun (2015)

Sebenarnya apa sih yang jadi resep mengapa album Taifun menjadi inspirasi berkarya bagi banyak Go Ahead People?

Gak lain adalah pesan tersembunyi yang lahir dari tiap baris lirik yang ada di lagu-lagu Barasuara di album Taifun ini. Penasaran kira-kira pesan apa yang tersembunyi di lagu-lagu Barasuara ini? Simak selangkapnya....

Pikiran dan Perjalanan (2019)

Iga Massardi, gitaris dan vokalis Barasuara, menceritakan bahwa album 'Pikiran dan Perjalanan' telah digarap sejak 2015 dan baru rampung pada Januari 2019. Ia pun membeberkan alasan utama mengapa proses penggarapannya berlangsung sangat lama.
"Karena, ya, kami perfeksionis ya, maunya hasil maksimal. Dari kemarin juga kami alhamdulilah manggung, terus promoin album 'Taifun' sampai orang bosen kali, ya. Jadi lebih ke bentrok jadwal juga," kata Iga. 

Gerald Situmorang, pemain bas gitar Barasuara, merasa proses penggarapan album kedua memakan waktu yang sama seperti pembuatan album 'Taifun'.
"Sebenarnya album 'Taifun' itu juga lama ya. Sampai tiga tahun pengerjaannya waktu itu. Samalah kayak gini. Orang-orang aja enggak tahu," tuturnya.
Iga dan Gerald sempat menceritakan mengenai sembilan lagu di album 'Pikiran dan Perjalanan'. Inspirasi di balik semua lagu nyatanya datang dari berbagai hal yang pernah terjadi di hidup para personel Barasuara sejak 2015 hingga kini.
Lagu '1000 Racun' yang liriknya dibuat oleh Iga, misalnya, terinspirasi dari pengalaman depresi seorang sahabat.
"Pengalaman itu datang dari salah satu teman gua yang mengalami depresi. Di sini digambarkan bagaimana perasaan seorang yang depresi. Betapa semua orang terlihat berbahaya di matanya dan '1000 racun' itu cocok untuk menganalogikan," tutur Iga.

Sebelum meluncurkan album kedua, Barasuara telah merilis single perdana bertajuk 'Guna Manusia'. Single tersebut telah dibuat video klipnya. Pada awalnya, 'Guna Manusia' bukanlah lagu andalan mereka.
"Saat akhirnya lagu ini menjadi single pertama album ini agak lucu sih, karena ini awalnya enggak jadi jagoan. Gue waktu itu nulis lagunya benar-benar abis mandi. Gue bikin chord dan melodinya, terus gue bawa ke rumah Marco," ucap Gerald.
Ketika hendak direkam, para personel Barasuara belum bisa menyelesaikan keseluruhan aransemen di lagu 'Guna Manusia'. Penyelesaiannya bahkan terjadi karena ketidaksengajaan.
"Akhirnya Iga main satu reff, bercanda gitu, tapi menurut gue kok reff itu enak, ya. Akhirnya masuk deh ke lagu sampai di album," tutur Gerald.

Iga mengaku, ada salah satu single di album 'Pikiran dan Perjalanan' yang bercerita tentang pengalaman personal hidupnya. Lagu tersebut berjudul 'Pancarona'.
"Lagu ini berawal dari pengalaman pribadi saat berada di titik terendah. Pancarona ini kan artinya warna-warni. Itu menganalogikan kondisi kebingungan gue. Jadi, seperti orang yang mencari jawaban atas warna hidupnya," kata Iga.
Sebagai lagu terakhir di album 'Pikiran dan Perjalanan', Barasuara mendaulat karya berjudul 'Tirai Cahaya'. Lagu itu menganalogikan perjalanan terakhir di hidup beberapa personel Barasuara, termasuk Iga, yang saat ini telah menikah dan memiliki anak.
"Jadi, 'Tirai Cahaya' itu tercipta karena gue melihat sekarang personel Barasuara beberapa telah berkeluarga dan, kayak gue sendiri, sudah memiliki dua anak. Lirik di lagu ini seperti bayi keluar dari vagina ibunya, anak itu dewasa kemudian punya jalan sendiri. Sebagai orang tua pada akhirnya kita hanya melihat perjalanan anak kita di dunia," ujarnya.

Selain empat lagu tersebut, album 'Pikiran dan Perjalanan' masih memiliki lima single lain, yakni 'Pikiran dan Perjalanan', 'Haluan', 'Masa Mesias Mesias', 'Tentukan Arah', dan 'Samara'. Lagu-lagu itu akan bisa dinikmati setelah albumnya rilis pada 8 Maret mendatang.
Barasuara mengaku siap untuk menelurkan video klip baru ketika album rilis. Namun, mereka masih merahasiakan lagu mana yang akan dibuatka video klipnya.
Barasuara tidak hanya merilis album dalam format digital, tetapi juga bentuk fisik. Ada alasan tertentu mereka tetap merilis album fisik.
"Secara estetika berbeda jika kita cuma dengerin di Spotify dan lainnya, dibanding kita bikin album fisik. Kalau cuma digital, ya, kayak lo enggak punya romantisme terhadap albumnya," tutup Iga.


Single
"Bahas Bahasa" (16 September 2012)
"Sendu Melagu" (30 Maret 2013)
"Guna Manusia" (21 September 2018)

sumber
Share:

Friday, March 29, 2019

ikhsan Skuter profil

Iksan Skuter: Manusia dengan Alam Rusak, Bak Minum Air Putih Diberi Arsenik

Iksan Skuter, kala manggung di Yogyakarta. Foto: Tommy Apriando

Topi bergambar bintang satu merah, tak pernah lepas dari musisi satu ini. Begitu juga gitar hitam, selalu menemani kala pentas. Dialah Muhammad Iksan, atau dikenal dengan Iksan Skuter, musisi yang banyak menyuarakan persoalan lingkungan dan alam negeri ini.

Kegelisahan pria kelahiran Blora, Agustus 1984 ini, berawal kala kota tempat tinggalnya, Malang, Jawa Timur, makin rusak. Dia bersama kolega seniman terpanggil menyuarakan. Kala itu, Hutan Kota Malabar, ditanami beton, dengan alasan keindahan kota.

Merekapun membuat album kompilasi “Save Hutan Malabar” dan media alternatif perlawanan “Suar Malabar.” Pehobi kopi ini percaya, lewat lagu dan seni, bisa jadi sarana mengajak berbagai kalangan peduli.

Media alternatif sebagai bentuk perlawanan. Apalagi, suara perlawanan mempertahankan hutan kota, sering dipelintir media lokal di Malang, hingga membuat media sendiri untuk menjaga alam dinilai pilihan tepat. Dia juga mendirikan Institut Musik Jalanan (IMJ) di Depok, Jawa Barat. Ini sekolah non-profit didirikan 2013.

Kala senggang, tak ada pentas, dia berjualan kopi di “Warung Rawung,” Malang. Saya berkesempatan mewawancarai dia 15 November lalu. Berikut petikannya:

Sebagai musisi, apa yang membuat anda, peduli persoalan alam negeri ini?

Saya masih manusia. Manusia tanpa alam terjaga, seperti bermain “Rollet Rusia.” Manusia dengan alam rusak, seperti minum air putih pakai arsenik, akan mati cepat. Saya, mencoba memaksimalkan potensi, lewat karya musik terus menyuarakan persaoalan alam dan satwa negeri ini.

baca juga [rekomendasi] 5 lagu Ikhsan skuten buat playlist

Anda menyuarakan persoalan lingkungan lewat lagu, mengapa?

Itu yang bisa saya lakukan. Andaikata saya penulis, saya akan menulis. Jika pelukis, saya akan melukis. Karena saya membuat lagu, saya memaksimalkan fungsi karya (musik) sebagai media penyampai pesan. Pesan yang merespon kondisi yang terjadi. Kenyataannya, kejadian ini berhubungan dengan kasus lingkungan, korupsi dan politik kotor penguasa.

Bagaimana anda melihat kondisi hutan dan satwa di Indonesia?

Sungguh mengerikan. Menurut saya, tidak ada satupun kebijakan dan program pemerintah serius menyelesaikan permasalahan pembangunan yang berdampak buruk bahkan, merusak hutan dan isinya. Makin hari, kebijakan pemerintah tak terkontrol. Hanya mengejar indeks pembangunan tanpa memperhatikan dampak lingkungan.

Bagaimana lingkungan tempat tinggal anda di Malang dan Bandung?

Semua kota di Indonesia mengalami hal serupa. Tak hanya Bandung dan Malang. Pemerintah mengartikan pembangunan itu membangun bangunan. Tak jarang, bangunan perkotaan hanya di dominasi mal, ruko dan tempat perbelanjaan tanpa mengindahkan tata kota semestinya. Alhasil, semrawut. Ruang hijau makin menyempit, namun hutan beton makin melangit.

Anda terlibat aktif menjaga Hutan Kota Malabar di Malang bersama berbagai kalangan. Bagaimana kondisi Hutan Malabar?

Hutan Malabar adalah hutan kota terakhir di Malang. Bagi kami,, hutan Malabar harus dipertahankan. Ia simbol ekologi terakhir dari kota yang berdiri di atas gunung. Beberapa bulan kemarin, muncul kebijakan pemerintah Kota Malang “merevitalisasi” hutan kota. Jika dilihat dari desain akan berubah jadi taman. Dana revitalisasi dari corporate social responsibility (CSR) PT Amerta Indah Otsuka, produsen Pocari Sweat. Dari desain, terlihat bukan merevitalisasi, melainkan merenovasi dan membranding hutan dengan logo dan simbol produk. Itu yang mendasari kita bergerak.

Simbol terakhir ekologi akan dihancurkan. Kami akan pertahankan. Sebenarnya, masih banyak kasus lingkungan di Kota Malang, dan sekitar yang perlu dicermati.
Anda sempat kecewa dengan media yang terkesan lebih pro pemodal, benarkah?

Jelas. Fungsi media sebagai sarana penyampai pesan, sarana aufklarung (pencerahan) terhadap publik. Tempat penyampai kejadian secara obyektif. Fungsi dan kewajiban media massa mainstream malah makin hari makin berpihak penguasa dan pengusaha. Ini fatal! Jika dibiarkan, rakyat akan dibodohi berita yang tidak akurat dan meninabobokkan.

Apakah itu yang mendorong anda membuat media alternatif?

Sebagai bentuk perlawanan baru. Jika ‘mereka’ (media tidak pro lingkungan) menguasai berita, kita sekuat tenaga menguasai sosial media. Sebagai bentuk kritikan elegan, kepada koran-koran yang tidak obyektif. Kita sengaja memiripkan font, style desain koran tertentu. Karena, kita sedang mengkritik keberpihakan mereka kepada pemodal dan penguasa.

Anda banyak menciptakan lagu-lagu soal lingkungan. Berapa banyak? Darimana inspriasi anda menciptakan lagu-lagu soal alam dan lingkungan?

Wah, seingat saya banyak. Seperti, Lagu kita, Uang tak bisa dimakan, Nyanyian pagi, Rumput berburu tanah, Tumbuh dan tergesa, Papua papua kucinta dan masih banyak lagi. Saya terinspirasi dari apa yang saya lihat. Saya dengar. Saya rasakan langsung. Atau dari berbagai persoalan panas tentang lingkungan. Semisal kematian Salim Kancil di Lumajang. Saya tergerak untuk mendokumentasikan kejadian tersebut lewat karya.

Bagaimana anda melihat pemerintah dalam melestarikan alam negeri ini?

Tidak pernah konkret. Hanya jargon-jargon saat kampanye dan akhir tahun menghabiskan anggaran negara. Drama lama yang berulang-ulang dipentaskan. Pertanyaannya, mereka terlalu pintar menipu, atau masyarakat yang terlalu bodoh? Sampai detik ini, jarang sekali kebijakan dan keberpihakan negara kepada nasib petani dan nelayan. Bahkan, ketika petani dan nelayan protes “pembangunan” mengancam alam selalu di respon berlebihan. Menerjunkan aparat, preman bahkan senjata. Padahal, ada jalan lain. Diskusi atau budaya rembug sampai menemukan titik temu dan solusi demi kebaikan semua. Bukan dengan cara otoriter apalagi cara-cara kekerasan hingga menelan korban bahkan berujung kematian. Ini sungguh jahat sekali.

Menurut anda, apakah kerusakan alam ada korelasi dengan perilaku korupsi pejabat negeri ini?

Bagai saya, ini satu kesatuan. Alam rusak karena kerakusan. Orang-orang rakus, cenderung korup. Kesimpulan saya, pasti ada korelasi. Seperti saudara kandung antara korupsi dan kebijakan tak ramah lingkungan. Perlawanan kita, harus terus terhadap yang rakus dan korup. Perlawanan bisa dengan cara apa saja, salah satu lewat seni dan kebudayaan.

Harapan saya, negara fokus dan bekerja riil mengatasi persoalan kerusakan alam yang “bersaudara kandung” korupsi. Jika tidak, bukan penguasa saja yang merasakan dampak di masa depan. Seluruh manusia, anak cucu pejabat dan pengusaha juga. Jika penguasa dan pengusaha sadar, mereka pasti menyelesaikan kasus-kasus itu. Jika mereka tetap mendiamkan bahkan melanjutkan kebijakan rakus, doakan saja mereka masuk neraka.

Apa pesan anda dalam menjaga kelestarian lingkungan?

Manusia tanpa alam terjaga, akan binasa. Alam tanpa manusia, akan baik-baik saja. Jika kita masih manusia, jagalah alam dan sekitar demi hari ini dan masa depan.

Beberapa karya Iksan:
*Album kompilasi “indie Mboyl Pos”, Draf, tahun 2001 produksi Gong Record, Malang
*Album mini “Draf” tahun 2002 tahun 2002 produksi Draf Management, Malang
-*Album kompilasi “Jorney to the Top with Mentos”, Draf, tahun 2003 produksi BMG, Jakarta
*Album “cerita Sahabat” Draf, tahun 2004 produksi Draf Management, Malang
*Album “apa Kabar Cinta”, Putih Band, tahun 2006 produksi Alfa Record, Jakarta
*Album “Gelombang Cinta”, Putih Band, tahun 2007 produksi Alfa record, Jakarta
*Album kompilasi Rohani Islam “LCLM”, Putih Band, tahun 2007 produksi Alfa Record, Jakarta
*Album kompilasi “Hip-Hip Hura SCTV volume 2”, Putih Band, tahun 2008 produksi Nagaswara, Jakarta
*Album “PUTIH”, Putih Band, tahun 2009 produksi Alfa Record, Jakarta

Album Solo:
*Album “Matahari”, Iksan Skuter, produksi Audiolectica Records 2012
*Album Musik Anti Korupsi Frekuensi Perangkap Tikus 2012, produksi ICW(Indonesia Coruption Watch)
*Album ” Folk Populi Folk Dei”, Iksan Skuter, 2013, Audiolectica Records.
*Album “Kecil Itu Indah”, Iksan Skuter, 2014, Audiolectica Records
*Album ” Shankara”, Iksan Skuter, 2015, Barongsai Records.
Share:
SafelinkU | Shorten your link and earn money