Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Wednesday, March 27, 2019

MENGENAL KOTA MAGETAN SEKALIGUS MENELUSURI ALUN-ALUN MAGETAN

MENGENAL KOTA MAGETAN SEKALIGUS MENELUSURI ALUN-ALUN MAGETAN



Alun – Alun Magetan merupakan tempat terbuka hijau yang ada di Kabupaten Magetan dimana setiap tahun alun alun ini mendapatkan suntikan dana yang cukup besar dari Pemda, sehingga perubahan alun alun juga sering terjadi. Sebagai taman di Magetan yang memiliki kapasitas yang besar alun alun juga menjadi tempat nongkrong anak muda khususnya untuk bertemu dengan teman sejawatnya.

Sebuah alun alun juga merupakan identitas sebuah daerah, jika alun alun rapi,bersih, nyaman tentunya ini berpengaruh pada cara pandang orang terhadap kinerja suatu pemerintahan daerah itu sendiri. Kota Magetan sendiri merupakan sebuah daerah yang ada di Jawa Timur dimana terdiri dari 18 kecamatan serta tersebar sebanyak 223 kelurahan yang ada di wilayah Magetan. Luas wilayah Magetan sendiri mencapai 668,85 Km2 dimana yang menjadi batas wilayah sebelah barat adalah Karanganyar, sisi utara ada Ngawi, sisi selatan ada Wonogiri dan sisi timur ada Madiiun dan Ponorogo.
Terus ruang terbuka hijau atau taman tersebut apa sih fungsinya? sedikit gambaran perihal fungsi taman yang adai sebuah kota antara lain:
  • Tentunya keberadaan taman atau RTH menjadi bagian dari sistem sirkulasi udara kalo manusia ia paru paru yang mengaturnya makin banyak taman makin adem and sejuk, bener pora? ora bener dianggep bener aee ora manut tak jewer
  • Untuk selanjutnya berfungsi sebagai tempat meneduh donk, kalo kamu enak-enak jalan sama pasangan terus hujan dan kebetulan ada taman ia mampir lumayan kan atau lagi kepanasan juga bisa mampir.
  • Fungsi selanjutnya untuk oksigen, itu pasti karena taman identik dengan banyak pohon dan bunga jadi oksigen melimpah.
  • Dan hal tidak kalah penting yaitu untuk penyerap air hujan, ini berfungsi untuk menampung sumber
  • Taman juga bisa mendatangkan satwa baik itu satwa kecil sekecil semut atau burung2 cantik yang nemplok di pohon awas jangan main bedel ora oleh yooo
  • Taman juga berfungsi sebagai penahan angin. menyerap bakteri yang tidak baik dll
  • Taman juga merupakan identitas suatu wilayah yang pernah kita sebut diatas tadi
  • RTH atau taman juga sebagai tempat berkomunikasi antar warga, ora enek taman kowe yooo kadang2 ora iso kenalan karo wong wedok tonggomu
  • Taman juga berfungsi sebagai tempat wisata, asikk
  • Dan masih banyak lagi fungsi dan manfaat adanya sebuah RTH atau taman kota.
Setelah mengetahui tentang banyak sekali manfaat taman apa kamu diem saja tidak bergerak untuk selalu menjaga kebersihan taman yang ada di daerah kamu?
Baca Juga: Deretan Tempat Makan di Magetan Yang Menggugah Selera Makan Kamu
Kabupatean Magetan memiliki beberapa potensi usaha yang sudah dikenal masyarakat Jawa Timur khususnya, dimana Magetan memiliki Sentra perkebunan Pamelo yang berlokasi di Tamanan, kerajinan kulit di jl.Sawo, kerajinan anyaman bambu di Ringin agung, sentra batik di Sidomukti, dan industri genteng di Winong dan masih banyak lagi pontensi yang terus dikembangkan oleh Pemda Magetan untuk kesejahteraan warga Magetan.
Wisata unggulan Magetan adalah Telaga Sarangan dimana lokasi berada di paling barat Magetan tepatnya di Plaosan, Sarangan di kaki gunung lawu dengan ketinggian 1000Mdpl.

Kembali ke topik utama berbicara ruang terbuka hijau ia sobat Triper, kota yang idealnya harus mempunyai ruang terbuka hijau atau sering di sebut RTH minimal 30% dari total luas wilayah yang ada yaitu 20% untuk kawasan hijau terbuka atau diperuntukan untuk umum sedangkan 10% itu area private. Apakah Magetan sudah memiliki standart dari ketentuan ini? kalo sudah bagus tinggal menata serta merawatnya dengan baik.

Setelah kamu mengetahui sedikit tentang Magetan kamu juga perlu mengetahui hal penting dimana histori terbentuknya Kabupaten Magetan.

Tidak dipungkiri terbentuknya Kota Magetan ada sangkut pautnya dengan Kerajaan Zaman dahulu dan peperangan oleh kompeni yang dikenal dengan VOC. Jika Ponorogo ada kaitanya denga Kerajaan Demak dan kemudian diutus Bentoro Kantong ke wilayah Wengker dan dibentuknya nama baru di wilayah tersebut dengan nama Pramono Rogo dan sampai saat ini familiar dengan Ponorogo.

Magetan sendiri juga tidak luput dengan sejarah zaman dahulu di masa Kerajaan yang memimpin di wilayah barat yaitu Solo, Yogya dan sekitarnya dan Magetan sendiri masuk wilayah timur karena berada di timur Gunung Lawu, perlu kamu tahu jalan karanganyar-magetan adalah lalulintas orang-orang hebat zaman dahulu karena tempat semedi dan membuka kadipaten di wilayah timur melakukan perjalanan menyusuri gunung lawu.
Cerita perihal meredupnya kerajaan adikuasa yaitu Mataram yang dipimpin oleh Sulta Agung Hanyokrokusumo dimana sang raja sangat luar biasa melawan VOC yang mencoba mengambil alih siklus perdagangan di daerah barat khususnya Solo-Tuban, namun setelah meninggalnya sang raja pada tahun 1645 Mataram berubah total yang tadinya menggila melawan VOC akan tetapi redup saat di pimpin oleh Sultan Amangkurat 1 pada masa 1646-16677.

Pada tahun 1646 sang raja Sultan Amangkurat 1 melakukan sebuah perjanjian dengan Kompeni dimana dalam perjajian tersebut dimana VOC bisa berdagang dimana saja dan bisa leluasa melakukan aktifitas di daerah Mataram sehingga VOC makin hari makin kuat area jajahan dan pertahannya serta di titip tertentu area perdagangan di kuasa VOC. Yang lebih fatal Mataram tidak diperbolehkan melakukan pelayaran ke timur yaitu Ambol dan Ternate baik itu hanya sekedar silaturohim karena dua Kota ini menjadi distrik VOC zaman dahulu.

Vidio Alun alun Magetan:

Karena keputusan sang Raja membuat perjanjian tersebut mengakibatkan goyangnya perekenomian dan menyebabkan pandangan yang kurang baik terhadap kolega kerajaan yang menjadi wilayah kekuasaan Mataram secara bertahap melepaskan diri semisal Panggeran Giri yang berkuasan di sisi Utara Pulau Jawa, dan panggeran asal Madura yang bernama Trunojoyo juga kecewa tas sikap sang Raja Mataram dan titik panasnya kerajaan kecil yang mulai tidak suka dengan Mataram melakukan agresi (memberontak) kepada Mataharam pada tahun 1674.

Dari pemberotakan yang dilakukan oleh kerajaan utara dn timur ini mengakibatkan ratusan orang menjadi korban dalam peperangan, suasana makin genting di dalam kerajaan Mataram kala itu, kerabat keraton yang bernama Basah Bibit dan Patih Mataram yang bernama Panggeran Nrang Kususmo di tuduh bersekutu dengan para Ulama dan menentang kebijakan Sulatan Amangkurat 1. Dari peristiwa ini Basah Gondokusumo diasingkan ke semarang dan sang Patih memilih untuk bersemedi di sisi timur yaitu Gunung Lawu, jabatan Patih Nrang Kusumo digantikan oleh adiknya yaitu Nrang Boyo II.
Singkat cerita karena dituduh bekerja sama dengan para Ulama dan panggerna timur Basah Gondokusumo diasingkan ke Semarang dikediaman Kakeknya dan dari sini awal cerita bahwasanya Basah Gondokusumo mendapatkan wasiat dari kakeknya untuk mengasingkan diri ke wilayah timur yaitu sisi timur Gunung Lawu tepatnya ia Magetan yang sekarang. Mereka Basah Suryaningrata mendengar berita disisi timur lagi diadakan babt hutan yang dipimpin oleh Ki Buyut Suro (Ki Ageng Getas), pembabatan hutan ini atas dasar perintah Ki Ageng Mageti ini awal mula Magetan ada.

Karena mereka berdua adalah orang asing di wilayah timur dan pengasingan mereka ke wilayah Magetan serta bertemu dengan Ki Buyut Suro, mereka meminta tempat tinggal , Ki Buyut Suro langsung bicara kepada mereka agar menemui Ki Ageng Mageti, tanpa bosa basi mereka langsung menemui Ki Ageng Mageti di kediamaanya di Dukuh Gandong Kidul yang sekarang Alun-Alun Magetan.
Dari pembicaraan mereka Ki Ageng Mageti memberikan sebidang tanah di area Tambran kalo sekarang tepatnya ia Pasar Baru Magetan. Pertemuan mereka ini sangat krusial karena Bayah Sunyaningrat dan Basah Gondokusumo dalam hal ini orang baru dan meminta tanah di area Magetan, Ki Ageng Mageti memberikan pertanyaan banyak dari hal ini Ki Ageng Mageti sadar bahwsanya Basah Suryaningrat adalah sesepuh Mataram makanya diberikan sebidang tanah di area Tambran.

 Awal dan muasal Kota Magetan dari sini, Basah Suryaningrat dan cucunya Basah Gondokusumo mendpatkan tanah dari Ki Ageng Mageti mengetahui bahwa mereka adalah kerabata keraton dan akhirnya Ki Ageng Mageti memberikan seluruh tanah yang ada di Magetan untuk menghormati serta kesetiaannya terhadap Mataram. Dengan menerima tanah dari Ki Ageng Mageti sesepuh Mataram yaitu Basah Suryaningrat langsung mewisuda cucunya Basah Gondokusumo menjadi penguasa Magetan yang baru dengan gelar Yosonegoro dan kemudian dikenal dengan Bupati Yosonegoro, pertitiwa awal mula pemerintahan Magetan ini terjadi pada tahun 12 Oktober 1675. Karena Suryaningrat mendapatkan persembahan tanah yang sangat luas dari Ki Ageng Mageti oleh karena itu wilayah ini diberikan nama ”MAGETAN”.
Share:

Bagaimana Kuntowijoyo Meramu Sejarah dan Sastra Sekaligus?

Bagaimana Kuntowijoyo Meramu Sejarah dan Sastra Sekaligus?



Tidak banyak penulis Indonesia yang mampu mengampu kekaryaan bidang sastra dan akademis sekaligus. Kuntowijoyo adalah satu dari manusia langka itu.

Sebagai sastrawan ia menulis semua lini; dari cerpen, novel, puisi, hingga drama. Di ranah nonfiksi, tema yang digarapnya pun merentang panjang; sebutlah analisis sosial-politik, budaya, sejarah, hingga soal-soal keislaman. Keduanya ia jalani dengan intensitas dan kekhusyukan yang sama.

Karenanya, tak heran jika Wan Anwar dalam Kuntowijoyo: Karya dan Dunianya (2007) memuji demikian: “Kualitas dan produktivitas Kuntowijoyo menulis karya sastra sebanding dengan kekuatannya menulis karya ilmiah dalam bidang sejarah atau pemikiran sosial berbasis Islam” (hlm. 4).


Kuntowijoyo lahir di Bantul, Yogyakarta pada 18 September 1943. Ia tumbuh dalam keluarga seniman. Ayahnya seorang dalang dan pembaca macapat, sementara kakek buyutnya adalah kaligrafer. Agaknya lingkungan keluarga ini ikut berpengaruh terhadap minatnya pada sastra.

Kuntowijoyo kecil mulai belajar mendongeng dan mendeklamasikan puisi di sebuah surau di desa Ngawonggo, Klaten. Di sana ia mendapat bimbingan dari M. Saribi Arifin dan Yusmanan, dua sastrawan kondang kala itu. Waktu luang yang ada dimanfaatkannya untuk membaca karya-karya penulis masyhur Indonesia dan dunia.

Wan Anwar menulis, “Begitu pula ketika memasuki SMP, ia membaca karya Hamka, H.B. Jassin, Pramoedya Ananta Toer, Nugroho Notosusanto, hingga pada masa SMA berkenalan dengan karya dunia, misalnya karya Charles Dickens dan Anton Chekov” (hlm. 3).

Pada 1964, semasa berkuliah di Jurusan Sejarah UGM, ia mulai menulis novel pertamanya. Novel yang ia juduli Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari itu kemudian diterbitkan sebagai cerbung di harian Djihad pada 1966.

Menurut Mochamad Irfan Hidayatullah dalam tesisnya di UI yang berjudul Estetika Sastra Profetik: Analisis Struktural-Semiotik Atas Gagasan dan Karya Sastra Kuntowijoyo (2006), bakat menulis Kuntowijoyo memang semakin kilap saat berkuliah. Tak hanya menulis, putra dalang ini juga sempat mendirikan Lembaga Kebudayaan dan Seniman Islam (Leksi). Ia terlibat pula dalam Studi Grup Mantika bersama Dawam Rahardjo, Sju’bah Asa, Ikranagara, Abdul Hadi W.M., dan Arifin C. Noer (hlm. 36).

Karya cerpen Kuntowijoyo turut mengisi halaman majalah sastra seperti Budaya Jaya dan Horison juga rubrik sastra di Kompas dan Republika. Sementara karya ilmiahnya—meliputi soal-soal sejarah, budaya, dan keislaman—banyak terbit di jurnal Prisma, Ulumul Quran, dan Keadilan. Serangkaian tulisannya tentang politik Islam juga pernah menjadi pengisi tetap majalah Ummat pada 1996.

Novel Potret Sosial
Bagi pembaca pemula, novel Pasar adalah karya yang tepat untuk memasuki khazanah Kuntowijoyo. Pasar adalah tengara kedalaman intelektual Kuntowijoyo sebagai penulis fiksi cum sejarawan sosial.

Kisah bergulir di sebuah pasar desa yang dikelola Pak Mantri Pasar. Sehari-hari ia dibantu Paijo, seorang pemuda desa yang sembrono tetapi patuh sekali kepada majikannya. Di pasar juga ada Bank Pasar yang dikelola seorang pegawai muda bernama Zaitun.

Konflik-konflik dalam novel ini bermula dari dara-dara liar yang dirawat Pak Mantri Pasar. Dara-dara itu bikin jengkel para pedagang karena memakan dagangan dan tahinya bikin kotor di mana-mana. Para pedagang jadi ogah bayar retribusi dan malah berjualan di jalan desa.

Hubungan Pak Mantri Pasar dan Zaitun pun jadi renggang karenanya. Pasar yang kotor dan pedagang yang kabur membuat Bank Pasar kehilangan nasabah. Tambah runyam lagi kala Kasan Ngali, saudagar kaya yang berumah di seberang pasar, membuka halamannya untuk dijadikan pasar baru.

Plot lalu mengarah pada cara-cara Pak Mantri Pasar mengatasi keadaan itu. Mulanya dengan cara-cara kolot hingga ia mau membuka diri. Kisah lainnya adalah bagaimana Paijo bertumbuh dari seorang kawula hingga ia siap jadi penerus Pak Mantri Pasar.

Pasar ini istimewa karena ia dapat dibaca sebagai novel sosiologis yang memotret perubahan sosial masyarakat Jawa agraris di akhir 1960-an. Ia adalah kisah tentang masyarakat dalam transisi. Novel ini menampilkan benturan tokoh-tokohnya yang mewakili kelas priyayi agraris (Pak Mantri Pasar), kawula (Paijo), para birokrat (Zaitun, polisi, camat), dan saudagar kapitalis (Kasan Ngali).

Cerita macam itu, sebagaimana diakui Kuntowijoyo, lahir dari endapan pengalaman semasa muda. Ia terbiasa berpindah-pindah tempat tinggal dan akrab dengan tempat-tempat komunal perdesaan macam surau dan pasar. Lain itu spektrum bacaannya yang luas juga turut andil. Itulah semua resepnya meramu karya.

Kuntowijoyo dapat menulis perubahan sosial dalam bentuk novel yang demikian memikat juga tak lepas dari dasar keilmuannya, sejarah. Sebagai sejarawan, kajian-kajiannya menitik pada soal sosial dan perdesaan.

“Pencerapan dan penghayatannya tentang manusia dan masyarakat sebagai bahan dasar untuk menulis sastra dibantu oleh pemahamannya atas sejarah suatu masyarakat. [...] Novel Pasar (1972), Mantra Penjinak Ular (2000), dan Wasripin dan Satinah (2003) memperlihatkan bagaimana perubahan sosial berlangsung dalam perkembangan sejarah masyarakat tempat tokoh-tokoh karya itu hidup,” demikian tulis Wan Anwar dalam bukunya (hlm. 9).

Sastra Profetik
Kuntowijoyo hampir selalu menjadikan Islam sebagai fundamen gagasannya. Ia cukup konsisten merujuk ajaran-ajaran Islam, terutama Alquran, sebagai dasar analisis terhadap peristiwa sejarah maupun masalah sosial yang diamatinya. Menurut Dawam Rahardjo, apa yang dilakukan Kuntowijoyo itu penting untuk mengimbangi paradigma orientalisme sarjana-sarjana Barat.

Namun begitu, Kuntowijoyo tak lantas memaksakan diri menghindari segala teori dan metodologi konvensional Barat. Perkakas keilmuan Barat ia perlakukan sebagai pengayaan pemikiran. Dari situ ia berupaya melakukan sintesis pemikiran Barat dan Islam. Sebagai misal bisa kita tengok upayanya menafsir Alquran dengan memakai kerangka keilmuan Barat tersebut.

“Misalnya saja dia menangkap makna yang terkandung dalam Surah Ali Imran ayat 110, dengan konsep-konsep yang dikenal umum yaitu humanisasi dan emansipasi untuk istilah ‘amr ma’ruf’, liberasi untuk ‘nahiy munkar’, dan transendensi untuk ‘iman kepada Allah’. Di sini dia berupaya memahami Al-Quran dalam kerangka ilmu, terutama teori-teori sosial,” tulis Dawam dalam pengantarnya untuk kompilasi karya Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (2008: 28).

Dari kerangka pikir inilah kemudian lahir gagasannya tentang sastra profetik. Sudah sejak 1982 Kuntowijoyo menengarai perlunya sastra yang melawan arus dehumanisasi sebagai dampak negatif modernisasi. Sastra yang tak hanya melihat manusia sebagai instrumen industri. Sastra yang tak hanya sebatas ekspresi atau laku ibadah penulisnya belaka, tetapi juga punya kekuatan transformatik.

“Dengan kata lain, sastra dihadapkan pada realitas untuk melakukan kritik dan penilaian sosial-budaya yang beradab. Itu sebabnya sastra profetik adalah sastra yang terlibat dengan dan dalam sejarah kemanusiaan/kemasyarakatan,” terang Wan Anwar (hlm. 155).

Sastra profetik yang mengedepankan nilai-nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi ini memang tampak dalam karya-karya Kuntowijoyo. Hanya saja ketiga nilai itu tak hadir secara bersamaan dalam satu karya. Menurut Wan Anwar masing-masing karya memiliki penekanan pada salah satu nilai.

Antologi sajak Suluk Awang-uwung dan novel Khotbah di Atas Bukit, misalnya, lebih menonjolkan nilai transendensi. Novel lainnya, Mantra Penjinak Ular dan Wasripin dan Satinah, cenderung menonjolkan aspek liberasi (hlm. 160-161).

Tak Bisa Disetop Penyakit
Pada awal 1992 sastrawan cum sejarawan Kuntowijoyo dikabarkan sakit akibat meningoencephalitis. Kondisi itu tak memungkinkan dirinya untuk bekerja ataupun menulis. Padahal, ia termasuk penulis fiksi yang produktif.

Hingga saat itu setidaknya ia telah menerbitkan delapan karya sastra berupa novel, naskah drama, dan antologi puisi. Di antara karya sastranya yang terkenal adalah Suluk Awang-uwung (kumpulan puisi, 1975), Pasar (novel, 1972), Khotbah di Atas Bukit (novel, 1976), dan Topeng Kayu (drama, 1973).

Ketika kabar tentang sakitnya Kuntowijoyo yang cukup parah itu tersebar, beberapa koleganya pesimistis. Penyakit itu memang membuatnya tak cekatan bergerak dan kesulitan berbicara. Seorang kawannya di Jurusan Sejarah UGM bahkan menganggap “misi” Kuntowijoyo telah berakhir. 

“Dalam kenyataannya, pernyataan itu sama sekali tidak benar, Kuntowijoyo terus menulis fiksi dan buku-buku ilmiah tentang sejarah dan kebudayaan yang sangat banyak diminati oleh para cerdik pandai dari kalangan manapun,” bantah Bakdi Soemanto dalam pengantarnya untuk kumpulan cerpen Kuntowijoyo, Pelajaran Pertama Bagi Calon Politisi (2013: ix).

Kuntowijoyo nyatanya belum habis. Ia tetap menulis walaupun kecepatannya kini terbatas. Seturut pengakuan sang istri Susilaningsih, sebagaimana dicatat Waryani Fajar Riyanto dalam “Seni, Ilmu, dan Agama: Memotret Tiga Dunia Kuntowijoyo (1943-2005) dengan Kacamata Integral(isme)” yang terbit di jurnal Politik Profetik (2013), Kuntowijoyo membiasakan diri menulis hanya dengan satu jari.

“Satu hal yang menurut saya kelebihan dari Pak Kunto adalah, walaupun dengan satu jari saja, yaitu jari telunjuk kanan itu, Pak Kunto mempunyai kesabaran yang luar biasa, ketika idenya itu sudah sangat besar, ia dengan sabar menulis satu persatu huruf,” tutur Susilaningsih.

Setelah dua tahun rehat dari dunia intelektual dan sastra, ia kembali dengan karya-karya pilih tanding. Cerpen-cerpennya—“Lelaki yang Kawin dengan Peri”, “Pistol Perdamaian”, dan “Anjing-anjing Menyerbu Kuburan”—terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas berturut-turut pada 1995 hingga 1997. Kompilasi-kompilasi esainya juga terbit setelah itu. Sebut misalnya Demokrasi dan Budaya Birokrasi (1994), Identitas Politik Umat Islam (1997), hingga yang cukup terkenal Muslim Tanpa Masjid (2001).

Ia tak berhenti menulis hingga mangkat pada 22 Februari 2005, tepat hari ini 14 tahun lalu. Kini, atas tinggalan karya-karya itu, kita mengenal Kuntowijoyo setidaknya dalam tiga predikat: sastrawan, sejarawan, dan intelektual muslim.

sumber: tirto.id - fdr/ivn)

Share:

Thursday, March 21, 2019

Kematian Nike Ardilla dan Depresi Para Artis

19 Maret 1995

Kematian Nike Ardilla dan Depresi Para Artis






Penulis: Nuran Wibisono
19 Maret 2019
Kematian Nike Ardilla dan Depresi Para Artis
Di hari-hari terakhir sebelum kecelakaan merenggut nyawanya, Nike Ardilla mengeluhkan rasa letih kepada orang terdekatnya.
 
tirto.id - "Tak ada ilmu yang bisa mengajarkan cara menghadapi popularitas. Tak ada panduan yang bisa menyiapkanmu menghadapi perasaan aneh dan sesak karena dikenali ke mana pun kamu pergi. Tak ada latihan untuk menghadapi itu semua," tulis Duff McKagan dalam It's So Easy and Other Lies (2011).

Jauh sebelum Appetite for Destruction dirilis, Duff McKagan hanyalah pemuda asal Seattle dengan dandanan mencolok. Tinggi nyaris 2 meter, rambut dicat merah, suka mengenakan mantel kulit yang ujung belakangnya menyentuh betis. Dengan dandanan seperti itu, Duff diacuhkan oleh sekelilingnya. Dianggap sebagai anak muda biasa yang mencari perhatian.

Namun, saat Guns N Roses merilis album perdana yang kemudian terjual 30 juta kopi di seluruh dunia, dunia Duff tak lagi sama. Ia bukan sekadar pemuda aneh dengan pakaian kacau balau. Bukan cuma pemuda berambut merah yang suka memakai gembok sebagai kalung. Tak lagi menjadi pemuda jangkung yang hobi minum bir. Ia adalah Duff McKagan, basis grup rock terbesar dunia. Ia adalah bintang rock.


Ia dikenali saat pergi ke mana pun. Ternyata popularitas macam itu membuatnya merasakan cemas sekaligus ketakutan yang ganjil. Ia merasa betapa sempit kebebasannya. Duff baru berusia 23 saat semua kegilaan itu dimulai.

"Suatu hari kamu pergi ke toko kelontong untuk beli rokok. Kemudian tiba-tiba saja ada histeria massa saat kamu masuk ke toko. Dalam teori, dunia dan masa depanku terbuka. Uang dan ketenaran seolah mewakili kesempatan yang tak terbatas. Tapi praktiknya, duniaku terasa menciut karena semakin sedikit tempat yang bisa aku kunjungi tanpa dikenali dan menarik perhatian. Aku mulai merasa seperti macan di kebun binatang: raja hutan tapi terperangkap dalam kandang," ujar Duff dalam buku biografinya.

Untuk menghilangkan rasa gugup karena popularitas itu, Duff semakin rajin menenggak alkohol. Segala macam alkohol ia minum. Vodka. Wine. Bir. Wiski. Bahkan pada satu titik, ia tak pernah minum air putih selama 10 tahun. Kebiasaan buruk ini membuat pankreasnya membengkak dan meledak. Dokter memvonis, kalau Duff tak berhenti minum alkohol, ia akan mati dalam waktu satu bulan.

Maka, peristiwa yang hampir membuatnya mati itu jadi titik balik kehidupan Duff. Ia berhenti minum alkohol dan mulai rajin olahraga. Dalam satu wawancara, Duff mengaku bersepeda ke gunung dan bela diri. Aktivitas ini berjasa membuatnya berjarak dari alkohol. Duff kemudian memutuskan untuk kuliah di Albers School of Business and Economics. Selain itu, ia rutin menulis kolom ekonomi dan gaya hidup di sejumlah media.

Duff bisa dibilang beruntung karena punya kesempatan kedua. Ada banyak artis yang kemudian jadi depresi karena popularitas di usia muda. Beberapa berakhir tragis. Entah bunuh diri, entah meninggal karena overdosis, ada pula yang memutuskan untuk menghilang dari dunia artis.

Usia Belia: Sukses sekaligus Kelelahan
Nike Ardilla adalah salah satu artis yang memulai karier di usia yang amat belia. Nike memasuki dunia tarik suara sejak umur 10. Menurut Alan Yudi, kakak lelaki Nike, bakat seni sang adik menurun dari kakek buyutnya, Kartabrata (dari pihak ayah) dan E. Muchtar (dari pihak ibu). Nike kecil pernah meraih pelbagai penghargaan menyanyi, sebelum kemudian bergabung dengan manajemen Denny Sabri. Bergabungnya Nike dengan promotor musik kawakan ini membawa dampak besar dalam karier sekaligus hidup Nike.

Pertama, nama Nike diubah untuk kepentingan pembentukan citra. Dari Nike Astrina menjadi Nike Ardilla. Kedua, Denny mengenalkan Nike kepada Deddy Dores, yang kelak menciptakan lagu-lagu hits Nike. Saat merilis album Seberkas Sinar pada 1989, usia Nike baru 14. Di tempat lain, anak-anak seumuran Nike sedang asyik bersekolah dan bermain.

Album itu laris terjual 500.000 keping. Jumlah besar untuk artis pendatang baru. Album kedua, Bintang Kehidupan, malah terjual 2 juta keping. Album ini membawa Nike ke jagat yang lebih luas lagi: jadi foto model dan membintangi film serta sinetron. Sejak 1989, Nike membintangi 7 film layar lebar dan 11 sinetron. Membuat jadwalnya semakin padat dan melelahkan. Menjalani tapping sinetron hingga tengah malam adalah rutinitas biasa bagi Nike kala itu.

Ditemui di museum Nike Ardilla, Alan Yudi masih ingat keluhan Nike beberapa hari sebelum meninggal. "Ia bilang capek banget," katanya. Menurut Alan, adiknya sempat mengajak orang tuanya berlibur. Namun, tempat liburannya bukanlah tujuan pakansi biasa. Melainkan ke panti asuhan. Liburan itu cukup membuat Nike senang. Meski demikian, kelelahan belum bisa sepenuhnya dari diri Nike.

"Coba lihat itu foto Nike," ujar Alan sembari menunjuk sebuah foto besar berpigura. "Lihat wajahnya yang capek itu. Kelihatan, kan?"

Foto itu menunjukkan Nike Ardilla tengah duduk di kursi, mengenakan gaun merah. Wajahnya tertekuk. Campuran wajah kelelahan serta kebosanan.

"Itu foto sehari sebelum Nike meninggal," kata Alan.

Kesaksian Alan juga hampir mirip dengan yang dituturkan Eddy Bogel, fotografer yang memotret Nike tiga hari sebelum meninggal. Pada 16 Maret 1995, Nike datang ke kantor majalah Aneka, tempat Eddy bekerja. Di sana Nike sempat diwawancara tentang kesuksesan kariernya di usia yang masih belia. Wawancara itu membuat Eddy lumayan terkejut. Biasanya Nike selalu ceria, tapi hari itu Nike terlihat lesu dan mengeluh.

"Orang mungkin lihat gue bangga dengan puja-puji. Bergelimang prestasi. Tapi terkadang gue yang jalanin merasa jenuh. Capek. Gue pengin pensiun aja jadi artis," ujar Nike kala itu.

"Saya sempat bilang ke Nike. 'Dunia awalmu itu, kan, bernyanyi, tapi sekarang jadi melebar. Kalau capek balik aja ke dunia yang membesarkan namamu'," kata Alan.

Tapi nasihat Alan belum sempat dijalankan, Nike keburu meninggal dunia pada 19 Maret 1995, tepat hari ini 24 tahun lalu.

Artis dan Depresi
Sekilas menjadi seniman atau artis adalah profesi menyenangkan. Tak perlu mengikuti jam kantor. Bebas berpakaian apa saja. Tak punya bos yang akan memarahi. Namun, seniman atau artis adalah satu dari 10 profesi yang paling tinggi tingkat depresinya.

Menurut situs Health.com, kelompok artis, pekerja dunia hiburan, dan penulis adalah orang yang rawan mengalami apa yang disebut "major depression," alias perasaan sedih, galau, tidak bahagia, atau merasa kesepian. Penyebabnya diyakini lantaran perubahan zat kimia dalam otak yang dipicu oleh gen, atau peristiwa yang memicu stres, atau kombinasi keduanya.

Sekitar 9 persen kelompok artis, penghibur, dan penulis dilaporkan mengalami depresi. Menurut Deborah Legge, konselor mental di Buffalo, Amerika Serikat, ia terlalu sering menemui artis dan penghibur yang mengidap bipolar.

"Di kelompok orang-orang artistik, bisa jadi ada penyakit mood disorder yang belum didiagnosa atau tidak ditangani. Depresi umum terjadi pada mereka yang bekerja di bidang seni, dan gaya hidup juga berpengaruh terhadap depresi tersebut," ujar Deborah.

Tirto.idTirto.id
STOP PRESS! Pengumuman Hasil SNMPTN 2019 Sudah Dapat Diakses Lewat HP
dibaca normal 4 menit
Home  Musik
5 dari 5
19 Maret 1995
Kematian Nike Ardilla dan Depresi Para Artis
Penulis: Nuran Wibisono
19 Maret 2019
Kematian Nike Ardilla dan Depresi Para Artis
Di hari-hari terakhir sebelum kecelakaan merenggut nyawanya, Nike Ardilla mengeluhkan rasa letih kepada orang terdekatnya.
 
tirto.id - "Tak ada ilmu yang bisa mengajarkan cara menghadapi popularitas. Tak ada panduan yang bisa menyiapkanmu menghadapi perasaan aneh dan sesak karena dikenali ke mana pun kamu pergi. Tak ada latihan untuk menghadapi itu semua," tulis Duff McKagan dalam It's So Easy and Other Lies (2011).

Jauh sebelum Appetite for Destruction dirilis, Duff McKagan hanyalah pemuda asal Seattle dengan dandanan mencolok. Tinggi nyaris 2 meter, rambut dicat merah, suka mengenakan mantel kulit yang ujung belakangnya menyentuh betis. Dengan dandanan seperti itu, Duff diacuhkan oleh sekelilingnya. Dianggap sebagai anak muda biasa yang mencari perhatian.

Namun, saat Guns N Roses merilis album perdana yang kemudian terjual 30 juta kopi di seluruh dunia, dunia Duff tak lagi sama. Ia bukan sekadar pemuda aneh dengan pakaian kacau balau. Bukan cuma pemuda berambut merah yang suka memakai gembok sebagai kalung. Tak lagi menjadi pemuda jangkung yang hobi minum bir. Ia adalah Duff McKagan, basis grup rock terbesar dunia. Ia adalah bintang rock.


Ia dikenali saat pergi ke mana pun. Ternyata popularitas macam itu membuatnya merasakan cemas sekaligus ketakutan yang ganjil. Ia merasa betapa sempit kebebasannya. Duff baru berusia 23 saat semua kegilaan itu dimulai.

"Suatu hari kamu pergi ke toko kelontong untuk beli rokok. Kemudian tiba-tiba saja ada histeria massa saat kamu masuk ke toko. Dalam teori, dunia dan masa depanku terbuka. Uang dan ketenaran seolah mewakili kesempatan yang tak terbatas. Tapi praktiknya, duniaku terasa menciut karena semakin sedikit tempat yang bisa aku kunjungi tanpa dikenali dan menarik perhatian. Aku mulai merasa seperti macan di kebun binatang: raja hutan tapi terperangkap dalam kandang," ujar Duff dalam buku biografinya.

Untuk menghilangkan rasa gugup karena popularitas itu, Duff semakin rajin menenggak alkohol. Segala macam alkohol ia minum. Vodka. Wine. Bir. Wiski. Bahkan pada satu titik, ia tak pernah minum air putih selama 10 tahun. Kebiasaan buruk ini membuat pankreasnya membengkak dan meledak. Dokter memvonis, kalau Duff tak berhenti minum alkohol, ia akan mati dalam waktu satu bulan.

Maka, peristiwa yang hampir membuatnya mati itu jadi titik balik kehidupan Duff. Ia berhenti minum alkohol dan mulai rajin olahraga. Dalam satu wawancara, Duff mengaku bersepeda ke gunung dan bela diri. Aktivitas ini berjasa membuatnya berjarak dari alkohol. Duff kemudian memutuskan untuk kuliah di Albers School of Business and Economics. Selain itu, ia rutin menulis kolom ekonomi dan gaya hidup di sejumlah media.

Duff bisa dibilang beruntung karena punya kesempatan kedua. Ada banyak artis yang kemudian jadi depresi karena popularitas di usia muda. Beberapa berakhir tragis. Entah bunuh diri, entah meninggal karena overdosis, ada pula yang memutuskan untuk menghilang dari dunia artis.

Usia Belia: Sukses sekaligus Kelelahan
Nike Ardilla adalah salah satu artis yang memulai karier di usia yang amat belia. Nike memasuki dunia tarik suara sejak umur 10. Menurut Alan Yudi, kakak lelaki Nike, bakat seni sang adik menurun dari kakek buyutnya, Kartabrata (dari pihak ayah) dan E. Muchtar (dari pihak ibu). Nike kecil pernah meraih pelbagai penghargaan menyanyi, sebelum kemudian bergabung dengan manajemen Denny Sabri. Bergabungnya Nike dengan promotor musik kawakan ini membawa dampak besar dalam karier sekaligus hidup Nike.

Pertama, nama Nike diubah untuk kepentingan pembentukan citra. Dari Nike Astrina menjadi Nike Ardilla. Kedua, Denny mengenalkan Nike kepada Deddy Dores, yang kelak menciptakan lagu-lagu hits Nike. Saat merilis album Seberkas Sinar pada 1989, usia Nike baru 14. Di tempat lain, anak-anak seumuran Nike sedang asyik bersekolah dan bermain.

Album itu laris terjual 500.000 keping. Jumlah besar untuk artis pendatang baru. Album kedua, Bintang Kehidupan, malah terjual 2 juta keping. Album ini membawa Nike ke jagat yang lebih luas lagi: jadi foto model dan membintangi film serta sinetron. Sejak 1989, Nike membintangi 7 film layar lebar dan 11 sinetron. Membuat jadwalnya semakin padat dan melelahkan. Menjalani tapping sinetron hingga tengah malam adalah rutinitas biasa bagi Nike kala itu.

Ditemui di museum Nike Ardilla, Alan Yudi masih ingat keluhan Nike beberapa hari sebelum meninggal. "Ia bilang capek banget," katanya. Menurut Alan, adiknya sempat mengajak orang tuanya berlibur. Namun, tempat liburannya bukanlah tujuan pakansi biasa. Melainkan ke panti asuhan. Liburan itu cukup membuat Nike senang. Meski demikian, kelelahan belum bisa sepenuhnya dari diri Nike.

"Coba lihat itu foto Nike," ujar Alan sembari menunjuk sebuah foto besar berpigura. "Lihat wajahnya yang capek itu. Kelihatan, kan?"

Foto itu menunjukkan Nike Ardilla tengah duduk di kursi, mengenakan gaun merah. Wajahnya tertekuk. Campuran wajah kelelahan serta kebosanan.

"Itu foto sehari sebelum Nike meninggal," kata Alan.

Kesaksian Alan juga hampir mirip dengan yang dituturkan Eddy Bogel, fotografer yang memotret Nike tiga hari sebelum meninggal. Pada 16 Maret 1995, Nike datang ke kantor majalah Aneka, tempat Eddy bekerja. Di sana Nike sempat diwawancara tentang kesuksesan kariernya di usia yang masih belia. Wawancara itu membuat Eddy lumayan terkejut. Biasanya Nike selalu ceria, tapi hari itu Nike terlihat lesu dan mengeluh.

"Orang mungkin lihat gue bangga dengan puja-puji. Bergelimang prestasi. Tapi terkadang gue yang jalanin merasa jenuh. Capek. Gue pengin pensiun aja jadi artis," ujar Nike kala itu.

"Saya sempat bilang ke Nike. 'Dunia awalmu itu, kan, bernyanyi, tapi sekarang jadi melebar. Kalau capek balik aja ke dunia yang membesarkan namamu'," kata Alan.

Tapi nasihat Alan belum sempat dijalankan, Nike keburu meninggal dunia pada 19 Maret 1995, tepat hari ini 24 tahun lalu.

Artis dan Depresi
Sekilas menjadi seniman atau artis adalah profesi menyenangkan. Tak perlu mengikuti jam kantor. Bebas berpakaian apa saja. Tak punya bos yang akan memarahi. Namun, seniman atau artis adalah satu dari 10 profesi yang paling tinggi tingkat depresinya.

Menurut situs Health.com, kelompok artis, pekerja dunia hiburan, dan penulis adalah orang yang rawan mengalami apa yang disebut "major depression," alias perasaan sedih, galau, tidak bahagia, atau merasa kesepian. Penyebabnya diyakini lantaran perubahan zat kimia dalam otak yang dipicu oleh gen, atau peristiwa yang memicu stres, atau kombinasi keduanya.

Sekitar 9 persen kelompok artis, penghibur, dan penulis dilaporkan mengalami depresi. Menurut Deborah Legge, konselor mental di Buffalo, Amerika Serikat, ia terlalu sering menemui artis dan penghibur yang mengidap bipolar.

"Di kelompok orang-orang artistik, bisa jadi ada penyakit mood disorder yang belum didiagnosa atau tidak ditangani. Depresi umum terjadi pada mereka yang bekerja di bidang seni, dan gaya hidup juga berpengaruh terhadap depresi tersebut," ujar Deborah.

Infografik Mozaik Profesi dan Depresi


Pada 2016, lembaga Help Musician UK merilis laporan berjudul "Can Music Make You Sick?" Laporan setebal 69 halaman ini berasal dari survei oleh Universitas Westminster dan lembaga pemikiran musik, MusicTank. Respondennya adalah 2.211 orang yang bekerja di dunia musik, antara lain musisi (39 persen), penulis musik atau produser (10 persen), artis solo (8 persen), pekerja label (7 persen), pekerja audio (4 persen), dan kru (2 persen). Mayoritas responden (66,2 persen) berusia antara 18 hingga 35 tahun. Survei ini mengungkap sisi gelap depresi musisi yang selama ini sekadar jadi perbincangan selintas lalu.

Dari survei itu, diketahui 71 persen responden menyatakan pernah mengalami serangan panik dan/atau kecemasan tingkat tinggi. Selain itu, 69 persen responden mengaku mengalami depresi. Sebagai perbandingan, sekitar 19 persen warga biasa Inggris mengalami kecemasan atau depresi. Artinya, kemungkinan depresi menyerang pekerja dunia musik tiga kali lebih besar ketimbang warga yang tidak bekerja di dunia musik.

Ada beberapa alasan yang disebut sebagai penyebab depresi. Mulai dari bayaran yang tak stabil, tuntutan kerja yang tinggi, kurangnya perhatian terhadap karya, hingga masalah yang berkaitan dengan gender: seksisme, diskriminasi, dan pelecehan seksual.

Masalahnya kemudian, mencari bantuan mengatasi depresi itu ternyata tidaklah mudah. Saat diberikan pertanyaan apakah mudah mencari bantuan, 53 persen responden menjawab tidak. Sama seperti kasus yang terjadi pada diri Duff McKagan, depresi yang ia alami tidak membuatnya pergi ke psikolog atau ahli kejiwaan. Cara pintas yang ia tempuh dengan minum alkohol dan memakai narkoba.

Tanpa bantuan, pekerja dunia musik ini hanya bisa menapak jalan tragis. Entah mati overdosis atau bunuh diri. Sebut saja Jani Lane, Kurt Cobain, hingga Tommy Page.

"Survei ini adalah langkah awal yang penting untuk memahami bagaimana kondisi kejiwaan musisi dan pekerja musik," tulis Help Musician UK dalam penutup laporan.

"Dengan selesainya tahap penelitian berikut, yang akan menyelami lebih dalam isu ini dan mencari berbagai solusi, Help Musician UK mengharapkan akan meluncurkan layanan kesehatan jiwa bagi mereka yang bekerja di industri musik pada 2017."
sumber : https://tirto.id/kematian-nike-ardilla-dan-depresi-para-artis-clBx
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Fahri Salam

Share:
SafelinkU | Shorten your link and earn money